Langsung ke konten utama

[makassar, 271116-011216]

Assalamu’alaikum Makassar, assalamu’alaikum kota kelahiranku
Yey. Finally tiba d makassar. Yaps, kami berada d makassar, tepatnya d LEC athiran selama beberapa hari. Untuk ap? Benar sekali, untuk menyusun rencana. Untuk merencanakan rencana masa depan.

Tiga hari sibuk! Itu kalimat yang menggambarkan tiga hari kami di LEC. Dari pagi sampai sore, dipenuhi dengan agenda. Shalat dan makan adalah waktu untuk rehat sejenak.

And then, "tertunaikan" lagi satu tahap penting.
Rencana masa depan.
Yah, 4 hari penuh dinamika untuk merencanakan dinamika 11 bulan kedepan.
Tetiba saja teringat pepatah ini "Orang yang gagal merencanakan sesuatu berarti sedang merencanakan kegagalan"
Astagfirullah.
Semoga apa yang telah kita rencanakan adalah rencana kesukseksan, rencana matang yang dapat membawa kita pada kesuksesan program dan kebermanfaatan sebanyak-banyaknya.
Yaps, karena yang terpenting adalah memberi sebanyak-banyaknya manfaat.
Dan yang memberi sebanyak-banyaknya manfaat adalah sesuatu yang terencana secara matang dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.
Ingat! Yang terpenting adalah "asas kebermanfaatan"
Selamat mengabdi! Selamat berkarya! Selamat berkolaborasi! Selamat mengeksplorasi diri! Selamat bekerja! Dan selamat beribadah! Karena InsyaAllah, kerja kita adalah kerja ibadah
*nasihat untuk diri sendiri
*berada pada posisi paling rawan di crop! tolong jangan ada yang crop

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[05-071216]

Kepulangan kembali ke Lalabata selalu memiliki cerita tersendiri. Melihat hamparan hijau bukit-bukit yang menjadi lahan pertanian, dan gelak tawa anak-anak dan remaja di lapangan bola dan lapangan volley sore hari. Desa ini terlalu luas! Semakin dipandang seakan semakin banyak lokasi yang belum kami telusuri. Dan rasa penasaran tak kunjung berhenti menghinggapi benak ini. Terlalu penasaran untuk melihat setiap bagian didesa ini. Dan rasa penasaran itu berada dipuncaknya di saat-saat seperti ini, saat hari-hari pertama kembali ke desa. Ntah kenapa, tapi selalu seperti itu! Rasa penasaran tak bisa diabaikan begitu saja! Selain berdiskusi “berisi” sampai diskusi ngalur ngidul dengan masyarakat dan “tokoh’nya, kami memiliki misi menjelajah desa beberapa hari ini. Dan benar saja, banyak sekali titik-titik menarik baru yang kami temukan. Siapa sangka ada jalan pintas yang menghubungkan Dusun Matajang dan Dusun Bacu-bacu?. Yah, tanpa sengaja kami menemukan jalan ini, jalan yang membelah ...

[161216]

Mesjid tenaga surya Sebut saja begitu, saya menamakannya seperti itu. Tadi siang "mesjid tenaga surya" ini menjadi lokasi perayaan Hari lahir Baginda Rasulullah SAW. Knp saya sebut mesjid tenaga surya? Yah, itu karena pada siang hari mesjid ini mengandalkan alat pembangkit listrik tenaga surya. . Kampung Pacore adalah salah satu kampung d Desa Lalabata, tepatnya d Dusun Matajang, lebih tepatnya lagi sekitar 2 km dari pusat dusun. Jarak yang terbilang cukup jauh untuk ukuran pemisah kampung dalam satu dusun. Mungkin karena jauh dari pusat dusun, terlebih pusat desa, dusun ini seperti memiliki "dunia" sendiri. Yah, d kampung ini, sore hari kita akan melihat jalan^ yang dipenuhi dengan anak^ dengan berbagai jenis permainannya. Semua bermain d luar! tak ada aktivitas nonton tv. Kenapa? Karena kampung ini memang belum berlistrik! Tapi tenang saja, ada satu bangunan yang berlistrik. Mesjid. Itulah mesjid tenaga surya tadi Sy selalu suka prinsip mengupayaka...

[111116]

Temanya masih seputar “pindahan” dan rumah baru. Memulai pagi dengan sesi bersih-bersih basecamp. Basecamp? Ahh jangan basecamp, saya lebih suka menyebutnya “rumah”, dan karena kami baru di sini, mari kita sebut dengan “rumah baru”. Puas dengan sesi bersih-bersih, kami beralih kesesi belanja belanja. Meluncur ke pasar dengan modal bertanya, menuju pasar Pekkae. Berbagai kebutuhan dapur untuk beberapa hari kedepan telah tergantung dimotor, kami pulang. Diparkiran ada penjual pisang, kami singgah, kami beli pisang, saya suka pisang, Kak Ratna dan Kak Ravi juga, walau mungkin tak sesuka saya. Haha. Kami benar-benar pulang, pulang ke rumah baru. Sorenya, kami menuju Dusun Bacu-bacu. Dan ini adalah perjalanan pertama kami (saya dan Kak Ratna), kak Ravi tidak, ntah ini perjalanan keberapa baginya. Itupun belum menyusuri seluruh wilayah Dusun Bacu-bacu, kami hanya sampai di rumah pak dusun belum  menyusuri Dusun Bacu-bacu secara keseluruhan. Di rumah pak dusun kami disambut hangat ole...