Tak ada lagi pematang,
yang ada hanya genangan (Kak Ratna, 2016). Semalam, sekitar jam segini, kak
Ravi pulang dengan ngosngosan. Kami bingung. D kejar anjingkah? Ato d kejar
pencuri? Ntahlah, yang jelas kedatangannya d iringi lolongan anjing. "Rusak
motor" itu kata yang berulang kali d ulangnya. Ternyata si hijau mogok,
kemasukan air. Kak Ravi mulai bercerita, terkesan dramatis, namun kami (saya
dan kak Ratna) bisa mengerti kemudian. Motor mogok d tengah banjir hampir sepinggang, dengan arus yang sangat deras,
hampir hanyut. Barang bawaan alat tulis yang harus d selamatkan. D lanjutkan
dengan perjalanan dengan motor yang masih mogok, mendaki dan menurun dengan
jalan berbatu. "Mendadak kuatka" katanya. Hahaha
Cerita
itu baru bisa benar^ kami pahami saat kami hendak melalui jalan tersebut.
Subhanallah, benar-benar tak ada yang berani menerobos banjir sepinggang
tersebut. Jadilah kami melalui jalan memutar di sisi pembangunan rel kereta
api, yang banyak juga memilih tak jadi pergi saat melihat medannya. Mendaki,
menurun, becek dan licin. Dan lagi si abu^ yang harus d ajak bekerja sama, si
hijau masih istirahat, mogok. Walau sempat menerima jasa didorong oleh warga lantaran
tak bisa mendaki, tapi cuma sekali, dalam perjalanan 2 kali bolak balik, saya
tetap salut.
Karena
Lalabata kebanjiran, seharian kami di rumah, fokus menyusun rencana masa depan,
OYAP. Sorenya saya memutuskan “pulang’, tak tenang lantaran chat chat dari si
bungsu. Saya meninggalkan Kak Ratna dan Kak Ravi berduo karir.
Komentar
Posting Komentar